Rabu, 08 Agustus 2012

HUKUM PERLINDUNGAN ANAK DAN PEREMPUAN (FAKTOR PENYEBAB KENAKALAN ANAK)


A. Pengertian Dan Gejala Kenakalan Anak
         Perkembangan kejiwaan anak, karena anak adalah anak, anak tidak sama dengan orang dewasa anak memiliki system penilaian kanak-kanak yang menampilkan martabat    anak sendiri dan kriteria norma tersendiri, sebab sejak lahir anak sudan menampakan cirri-ciri dan tingkah laku karakteristik yang mandiri, memiliki kepribadian yang khas dan unik
Hal ini disebabkan oleh karena tarap perkembangan anak itu memang selalu berlainan dengan sifat-sifat dan cirri-cirinya, dimulai pada usia bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut, akan berlainan fisik psikis maupun jasmaninya.
        Seorang bayi misalnya, berlainan sifstnys dengan pemain kecil, sibuyung atau siupik yang masih sangat kecil berbeda cirri dan ulahnya dengan anak sekolah kehidupan psikis anak usia sekolah berbeda dengan anak berjiwa puber, sedangkan anak puber berbeda jasmaniah dan kehidupan psikisnya dengan orang dewasa setengah tua.Orang setengah tua berbeda pula psikisnya dan psikisnya dengan orangtua lanjut usia, sedangkan karakteristik individu yang dibawa sejak lahir, cenderung akan kuat bertahan sampai usia dewasa.
         Sistem penilaian anak-anak ini dengan bantuan usaha pendidikan harus bisa dikaitkan atau disesuaikan dengan system penilain manusia dewasa.Namun dengan demikian adalah salah apabila menerapkan kadar nilai orang dewasa pada diri anak-anak.
Proses perkembangan anak terdiri dari beberapa fase pertumbuhan yang bisa digolongkan berdasarkan pada paraparelitas perkembangan jasmani anak dengan perkembangan jiwa anak. Pengelolaan ini dibagi atas 3 fase yaitu :

1. Fase pertama adalah dimulainya pada usia anak 0 tahun sampai dengan 7 tahun yang bisa disebut sebagai anak kecil dan masa perkembangan kemampuan mental, pengembangan fungsi-fungsi tubuh, perkembangan kehidupan emesional, bahasa bayi dan bahasa bagi anak-anak, masa krites pertama dan tumbuhnya seksualitas awal pada anak.
2.fasea kedua dimulai pada usia 7 sampai 14 tahun tersebut sebagai masa kanak-kanak dapat digongkan dalam dua periode
- Masa anak-anak sekolah dasar mulai dari usia7 sampai 12 tahun adalah masa periode intelektual
- Masa remaja /pra-pubertas atau pubertas awal yang dikenal dengan sebutan periode pueral.
3. Fase ketiga adalah dimulai pada usia 14 sampai 21 tahun yang dinamakan masa remaja dalam arti sebenarnya yaitu fase pubertas dan adolescent dimana terdapat masa penghubung dan masa peralihan dari anak menjadi orang dewasa.
- Masa awal pubertas, disebut pula sebagai masa pueral/prapubertas.
- Masamenentaang kedua, fase negative trozalter kedua, periode verneinung.
- Masa pubertas sebenarnya, mulai kirang lebih 14 tahun.Pada masa pubertas pada anak perempuan berlangsung lebih awal dari pada masa pubertas anak laki-laki.
- Fase adolescence,mulai kurang lebih dari usia 17 tahun sampai sekitar 19 hingga 21 tahun.
            Menurut pasal 1 butir 2 Undang-undang No 3 Tahun 1997 tentang pengadilan anak bahwa yang dimaksut dengan anak nakal adalah :

a. Anak yang  melakukan tindakan pidana atau
b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan dilarang bagi anak baik menurut peraturan perUndang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
            Tim proyek juvenile delinquency fakultas hukum Universitas padjadjaran Desember 1967 perumusannya sebagai berikut.
              Suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap                         bertentangan dengan ketentuan-ketantuan yang berlaku disuatu negara dan yang oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan yang tercela.
            




 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Juvenile Delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan pelanggaran norma, baik norma hukum maupun norma sosial yang dilakukan oleh anak-anak usia muda.
Hal tersebut cenderung untuk dikatakan sebagai kenakalan anak dari pada kejahatan anak, terlalu ekstrim rasanya seorang anak melakukan tindak pidana dikatakan sebagai penjahat, sementara kejadiannya adalah prose salami yang tidak boleh setiap manusia harus mengalami kegoncangan semasa menjelang kedewasaannya.
              Dalam KUHPIDANA DI Indonrsia, jelas terkandung makna bahwa suatu perbuatan pidana (kejahatan) harus mengandung unsure-unsur ;
a.Adanya perbuatan manusia
b.Perbuatan tersebut harus sesuai dengan ketentuan hukum;
c.Adanya kesalahan
d.Orang yang berbuat harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tingkah laku yang menjurus kepada masalah Juvenile Deliquency ini menurut Adler (dalam Kartini Kartono, 1992:21-23) adalah:
  1. kebut-kebutan di jalanan yang mengganggu keamanan lalu lintas dan membahayakan  jiwa sendiri dam orang lain;
  2. perilaku ugal-ugalan, berandal, urakan yang mengacakaukan ketentraman lingukungan sekitarnya;
  3. membolos sekolah lalu bergeladangan sepanjang tahun atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindakan asusila;
  4. perkelahian antara geng atau kelompok antar sekolah antar suku sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa;
  5. kriminalitas anak remaja dan adolenses antara lain berupa perbuatan mengancam intimidasi, memeras, mencopet, mencuri, merampas, menjambret, dll
  6. berpesta pora sambil mabuk-mabukan melakukan hubungan seks bebas;
  7. perkosaan, agresifitas seksual dan pembunuhan motif sosial;
  8. kecanduan dan ketagihan narkoba.

Gejala kenakalan anak bagaimana cirri-ciri khas atau cirri umum yang menonjol pada tingkah laku dari anak-anak puber terserbut diatas, antara lain:
  1. rasa harga diri yang semakin menguat dan gengsi yang terlalu besar serta kebutuhan untuk memamerkan diri.
  2. energi yang berlimpah-limpah memanifestasikan diri dari bentuk kebenarian yang cenderung melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri.
  3. senang mencari perhatian dangan jalan menonjolkan diri misalnya mabuk-mabukan, minuman keras.
  4. sikap hidupnya bercorak asosial dan keluar dari arah dunia objektif kea rah dunia subjektif sehingga dia tidak lagi suka pada kegunaan-kegunaan teknis yang sifatnya fragmatis, melainkan lebih suka bergerombol dengan kawan sebaya.
  5. pencarian suatu identitas kedewasaan cenderung melepaskan diri dari identitas Maupun identifikiasi lama dan mencari aku “ideal” sebagai identitas baru serta subtitusi identifikasi lama..

B. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA KENAKALAN ANAK
            Menurut kamus besar bahasa Indonesia 1995 bahwa yang dikatakan motifasi itu adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Motifasi sering juga diartikan sebagai usaha-usaha yang menyebabakan seseorang atau kelompok tertentu bergerak untuk melakukan suatu perbuatan karena ingin mencapai sesuatu yang dikngan kehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
            Bentuk dari motifasi itu ada 2 macam yaitu motifasi intrinsik dan ekstrinsik. Yang dimaksud dengan motifasi intrinsic adalah dorongan atau keinginan pada diri seorang yg tidak perlu disertai perangsang dari luar, sedangkan motifasi ekstrinsik adalah dorongan yang datang dari luar diri seseorang.
           




Berikut ini Romli Atmasasmita mengemukakan pendapatnya mengenai motifasi intrinsic dan ekstrinsik dari kenakalan anak
1. yang dimaksud dengan motifasi intrinsic kenakalan anak adalah:
a. factor intelegentia;
            intelegentia adalah kecerdasan seseorang atau kesanggupan seseorang untuk menimbang dan memeberi keputusan. Anak-anak delinquent ini pada umumnya mempunyai intelegensial verbal lebih rendah dan ketinggalan dalam pencapaian hasil-hasil sekolastik (prestasi sekolah rendah). Dengan kecerdasan yang rendah dan wawasan sosial yang kurang tajam, mereka mudah sekali terseret oleh ajakan buruk untuk menjadi delinquent jahat.
            b. factor usia;
            bahwa yang paling penting dalam sebab musabab timbulnya kejahatan adalah usia seseorang yang menyebabkan timbulnya kenakalan. Adapun kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh narapidana anak adalah.
-          kejahatan ketertiban
-          kejahatan susila
-          kejahatan pembunuhan
-          kejahatan penganiyaan
-          kejahatan pemerasan
-          kejahatan senjata tajam
-          kejahatan kenakalan dalam keluarga
-          kejahatan narkotika
-          kejahatan penculikan
-          kejahatan pada mata uang
c. factor kelamin;
adanya perbedaan jenis kelamin, mengakibatkan pula timbulnya perbedaan tidak hanya dalam segi kuantitas kenakalan semata-mata akan tetapi juga segi kualitas kenakalannya. Sering kali kita mendengar melihat atau membaca dalam mars media kejahatan banyak dilakukan oleh anak laki-laki seperti pencurian, penganiayaan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan. Dll. Sedangkan perbuatan pelanggaran banyak dilakukan oleh anak perempuan seperti pelanggaran terhadap ketertiban umum, pelanggaran kesusilaan misalnya melakukan persetubuhan diluar perkawinan sebagai akibat dari pergaulan bebas.
d. factor kedudukan anak dalam keluarga;
adalah kedudukan seorang anak dalam keluarga menurut urutan kelahirnnya, misalnya anak pertama kedua dst
hal ini dapat dipahami karena kebanyakan anak tunggal sangat dimanjakan oleh orangtuanya dengan pengawasan yang luar biasa, pemenuhan kebutuhan yang berlebih-lebihan dan segala permintaannya dikabulkan. Perlakuan orangtua terhadap anak akan menyulitkan anak itu sendiri dalam bergaul dengan masyarakat dan sering timbuk konflik didalam jiwanya, apabila suatu ketika keinginannya tidak dikabulkan oleh anggota masyarakat yang lain, akhirnya mengakibatkan frustasi dan kecendrungan mudah berbuat jahat.

2. motifasi entrinsik kenakalan anak
meliputi

A.    factor keluarga;
keluarga merupakan lingkungan sosial yang terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan didalamnya anak mendapatkan pendidikan yang pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat kecil, akan tetapi merupakan lingkungan yang paling kuat dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak yang belum sekolah. Oleh karena itu, keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif. Oleh karena sejak kecil anak dibesarkan oleh keluarga, sebagian besar waktunya adalah didalam keluarga maka sepantasnya kemungkinan timbulnya delinquency itu sebagai besar berasal dari keluarga
           



dalam broken home pada prinsipnya struktur keluarga tersebut sudah tidak lengkap lagi yang disebabkan oleh adanya hal-hal:
  1. perceraian orangtua
  2. salah satu dari kedua orangtua atau kedua-dunya meninggal dunia
  3. salah satu dari kedua orangtuanya tidak hadir secara continyu dalam tenggang waktu yang cukup lama
keadaan keluarga yang tidak normal bukan hanya terjadi pada broken home, akan tetapi pada masyarakat modern sering pula terjadi suatu kejala terjadi broken home semu ialah kedua orangtuanya masih utuh, tetapi karena masing-masing anggota keluarga ayah dan ibu mempunyai kesibukan masing-masing sehingga orangtua tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anaknya.

    1. factor pendidikan dan sekolah;
sekolah adalah sebagai media atau perantara bagi pembinaan jiwa anak-anak atau dengan kata lain sekolah itu bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak, baik pendidikan keilmuan maupun pendidikan tingkah laku. Banyaknya atau bertambahnya kenakalan anak-anak secara tidak langsung menunjukan kurang berhasilnya system pendidikan di sekolah-sekolah.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. sekolah harus merencanakan suatu program sekolah yang sesuai atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari semua anak untuk menghasilkan kemjuan dan perkembangan jiwa yang sehat.
  2. Sekolah harus memperhatikan anak-anak yang memperlihatkan tanda-tanda yang tidak baik dan kemudian mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mencegah  dan memperbaikinya.
  3. Sekolah harus bekerjasama dengan orangtua murid dan pemimpin-pemimpin yang lainnya untuk membantu menyingkirkan dan menghindarkan setiap factor di sekelilingnya yang menyebabkan kenakalan pada mereka.

    1. factor pergaulan anak
Harus disadari bahwa betapa besar pengaruh yang dimainkan oleh lingkungan pergaulan anak, terutama sekali disebabkan oleh konteks kulturalnya. Dalam situasi sosial yang menjadi semakin longgar kemudian menjauhkan diri dari keluarganya untuk kemnudian menegakkan eksistensi dirinya yang dianggap sebagai tersisih dan terancam. Mereka lalu memasuki satu unit keluarga baru dengan subkultur baru yang sudah delinquent sifatnya.
Dalam hal ini peranan orangtua untuk menyadrkan dan mengmbalikan kepercayaan anak tersebut serta harga dirinya sangat diperlukan. Perlu mendidik anak agar bersifat formal dan tegas supaya mereka terhindar dari pengaruh-prngaruh yang datang drai lingkungan pergaulan yang kurang baik.

    1. Pergaulan mars media
Pengaruh mars mediapun tidak kalah besarnya terhadap perkembangan anak. Keinginan atau kehendak yang tertanam pada diri anak untuk berbuat jahat timbul karena pengaruh bacaaan, gambar-gambar, dan film. Bagi anak yang mengisi waktu senggangnya dengan baca-bacaan yang buruk maka hal itu akan berbahaya dan dapat menghalang-halangi mereka untuk bernbuat hal-hal yang baik demikian pula halnya tontonan yang berupa gambar-gambar porno akan memeberikan rangsangan seks terhadap anak.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar